Konsep berdirinya bangunan, jika
meninjau ke masa lalu, maka konsep tataletak dan pengelolaan lahan untuk
bangunan, masih lebih baik jaman dulu
ketimbang sekarang. Hal ini disebabkan, pada masa itu lahan masih murah dan
setiap orang memiliki lahan untuk bangunan yang cukup besar. Jika sekarang,
orang mendirikan bangunan lebih bersifat kebutuhan internal. Pemanfaatan
ruangan kadang lebih penting ketimbang jika dikaitkan dengan keadaan dan konisi
lahan yang ada, apalagi jika dilihat dari segi estetika terhadap lingkungan dan
pandangan atau penampilan bangunan itu sendiri.
Berdirinya suatu bangunan, tidak
mungkin terlepas dari keberadaan lingkungan disekitarnya. Tidak sedikit
bangunan yang berdiri di satu pemukiman, yang akhirnya dapat merusak citra di
lingkungan itu. Lingkungan yang banyak berdiri bangunan dengan model “Puri”
atau dengan bentuk tinggi ramping dan banyak menggunakan atap-atap susun, akan
terlihat cantik menarik, manakala kiri-kanan tetangganya mendisain bentuk
bangunan dengan jenis yang sama, meskipun bentuk an warnanya berbeda atau
berpariatif. Lingkungan yang banyak berdiri bangunan dengan model “Minimalis”
atau dengan bentuk datar ramping dan pola-pola standard, akan terlihat cantik
menarik, manakala kiri-kanan tetangganya mendisain bentuk bangunan dengan jenis
yang sama, meskipun bentuknya berbeda atau bahkan warna cat nya pun berbeda.
Berdasarkan fungsi, bangunan
ternyata bukan saja sebagai tempat berteduh dan tempat tinggal yang nyaman,
namun juga berfungsi sebagai penyelaras lingkungan, untuk itu disain dan
penempatan fungsi-fungsi dari bangunan itu sebaiknya meninjau sekelilingnya. Kalaupun
bangunan itu akan memiliki bentuk yang berbeda jauh dengan lingkungannya, namun
tidak mengganggu citra sekelilingnya, maka ada baiknya dibuat jarak antara
bangunan dengan bangunan, dan dibuatkan sekat dari tamanan atau lahan kosong
sebagai taman.
